InPonsel Mobile
Mengenal Teknologi di MRT Jakarta Setelah Diresmikan
Telset — 24 Mar 2019 18:42

Mengenal Teknologi di MRT Jakarta Setelah Diresmikan

Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meresmikan moda transportasi massal MRT atau Moda Raya Terpadu yang pertama di Indonesia. MRT Jakarta yang diresmikan Presiden Jokowi adalah fase 1 dengan rute Lebak Bulus – Bundaran Hotel Indonesia.

“Dengan mengucapkan bismillahirahmanirahim, MRT fase pertama saya nyatakan dioperasikan, sekaligus MRT fase II hari ini kita mulai lagi,” katanya, saat meresmikan MRT fase pertama di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (24/03/2019).

Masyarakat Indonesia perlu menanti dalam waktu yang sangat panjang untuk dapat merasakan MRT pertama di Tanah Air. Sebab, moda transportasi ini sudah direncanakan sejak puluhan tahun yang lalu hingga akhirnya benar-benar diresmikan.

Penantian panjang masyarakat Indonesia diganjar langsung dengan moda transportasi massal berteknologi tinggi yang dapat menunjang kenyamanan dan keselamatan setiap penumpangnya. Lantas, apa saja teknologi yang ada di MRT Jakarta?

Berbicara soal lintasan atau relnya terlebih dahulu. Indonesia membangun terowongan jalur bawah tanah dengan menggunakan bor bernama Earth Pressure Balance (EPB) buatan perusahaan Jepang bernama Japan Tunnel System Corporation.

Yang canggih, selain menggerus tanah, mesin ini pun memasang segmen beton berbentuk lingkaran cincin pada waktu yang bersamaan. Segmen beton tersebut mampu menahan tekanan dari luar terowongan dengan baik.

Tak hanya jalur bawah tanah, MRT Jakarta juga melintasi jalur layang yang dibangun berdasarkan struktur direct fixation track with Anti-Vibration sleeper. Jalur layang juga ditambahkan komponen bernama synthetic rubber tiga dimensi agar kereta dapat melaju dengan mulus tanpa terdengar suaranya.

Pernah melihat video viral beberapa waktu lalu yang memperlihatkan sebuah koin Rp 500 yang didirikan di depan jendela MRT yang melaju kencang? Nah, video itu mengumpamakan kenyamanan MRT Jakarta yang bahkan tetap membuat koin Rp 500 bisa berdiri kokoh tanpa terjatuh.

Sekarang berbicara soal keretanya, Indonesia melalui PT MRT Jakarta bekerja sama dengan perusahaan asal Jepang bernama Nippon Sharyo untuk membuat moda transportasi massal ini.

Untuk setiap satu rangkaian MRT Jakarta terdiri dari enam gerbong. Tiap gerbongnya, memiliki dimensi panjang 20 meter, dengan lebar 2,9 meter dan tinggi mencapai 3,9 meter dengan kapasitas angkut maksimum mencapai 322 orang per gerbongnya atau 1.950 orang per rangkaian yang terdiri dari enam gerbong.

Saat membangun jaringan moda transportasi massal yang baik, kenyamanan penumpang memang menjadi fokus penting untuk MRT Jakarta. Sehingga mereka pun menerapkan sistem platform screen doors (PSD) sebagai pembatas dan pengaman antara peron dan jalur kereta.

Ada dua jenis PSD yang digunakan, yakni full-height untuk stasiun bawah tanah dan half-height untuk stasiun layang. Di tiap partisi, terdapat tiga pintu yaitu pintu otomatis, pintu darurat, dan pintu khusus masinis.

Tidak seperti KRL Commuterline yang hanya menggunakan batas kuning untuk mengamankan peron dengan jalur kereta, PSD benar-benar dapat mencegah penumpang terjatuh ke area rel kereta.

Sistem persinyalan juga tak luput dari perhatian dalam membangun MRT Jakarta. Sebab, sistem ini sangat mempengaruhi kenyamanan dan keamanan para penumpang.

Khusus untuk moda transportasi ini, digunakan sistem CBTC atau Communication Based Train Control. Sistem ini diklaim mampu meningkatkan ketepatan jadwal kereta, dan memangkas jarak singkat antar kereta sehingga mampu meningkatkan kapasitas angkut yang lebih besar.

MRT Jakarta sendiri akan beroperasi mulai besok (25/03), atau sehari setelah diresmikan. Nantinya, selama seminggu dari tanggal 25 sampai 31 Maret 2019 mendatang, masyarakat dapat mencoba MRT secara cuma-cuma.

Direncanakan, MRT Jakarta mulai berfungsi secara komersial pada 1 April 2019 mendatang. Penumpang nantinya akan membayar tarif sesuai dengan stasiun yang mereka lalui. (FHP)

512
512